Bank Indonesia (BI) Luncurkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk Mengatasi Rupiah yang Melemah

Akurasi, Nasional. Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengumumkan peluncuran instrumen baru yang disebut Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini diperkenalkan sebagai langkah antisipatif dalam menghadapi potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun rupiah telah mengalami beberapa tekanan dalam beberapa waktu terakhir, BI berupaya untuk menjaga stabilitas mata uangnya dan menjaga kepercayaan pasar.
SRBI adalah surat berharga yang diterbitkan oleh BI dalam mata uang rupiah. Instrumen ini dirancang untuk memberikan alternatif investasi yang aman dan menarik bagi investor domestik, terutama bank-bank komersial di Indonesia. Selain itu, SRBI juga dapat digunakan oleh BI sebagai instrumen kebijakan moneter untuk mengatur suku bunga dan likuiditas di pasar keuangan.
Salah satu alasan peluncuran SRBI adalah untuk menghadapi situasi global yang tidak pasti, termasuk ketidakpastian yang berkaitan dengan pergerakan nilai tukar rupiah. Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah telah mengalami beberapa pelemahan terhadap dolar AS, yang sebagian disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS.
Dengan peluncuran SRBI, BI berharap dapat menarik minat investor dalam negeri untuk berinvestasi dalam mata uang lokal, sehingga mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Selain itu, instrumen ini juga memberikan alternatif yang lebih aman daripada investasi dalam mata uang asing, yang dapat mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi nilai tukar.
SRBI memiliki beberapa fitur kunci, termasuk minimal nominal transaksi sebesar Rp 1 miliar, dengan kelipatan nominal penawaran senilai Rp 100 juta. Instrumen ini akan diterbitkan dalam tenor 6, 9, dan 12 bulan, sehingga memberikan fleksibilitas bagi investor untuk memilih jangka waktu yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Instrumen SRBI hanya dapat dibeli oleh bank umum yang menjadi peserta operasi pasar terbuka di pasar perdana. Setelah dibeli, instrumen ini dapat dipindahtangankan atau ditransaksikan di pasar sekunder, sehingga memberikan likuiditas tambahan bagi investor.
BI juga telah merencanakan jadwal lelang untuk SRBI. Lelang perdana SRBI akan dilakukan pada tanggal 15 September 2023, dan BI akan terus melakukan lelang setiap hari Rabu dan Jumat. Hal ini akan memberikan kesempatan bagi investor untuk terlibat dalam instrumen ini secara reguler.
Meskipun harga SRBI di pasar sekunder dapat berbeda antar bank, BI mengharapkan bahwa harga instrumen ini akan konvergen seiring dengan berjalannya waktu. Ini berarti bahwa, meskipun terdapat perbedaan awal, harga SRBI akan cenderung mendekati nilai yang seragam di seluruh pasar.
Sebagai bagian dari strategi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, instrumen ini diharapkan dapat membantu dalam mengurangi volatilitas mata uang dan mengatur suku bunga di pasar keuangan. Selain itu, SRBI juga diharapkan dapat menjadi instrumen investasi yang menarik bagi investor domestik, terutama bank-bank komersial yang mencari alternatif yang lebih aman daripada investasi dalam mata uang asing.
Dengan peluncuran SRBI, BI menunjukkan komitmennya untuk menjaga stabilitas mata uang dan pasar keuangan di tengah ketidakpastian global. Instrumen ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah yang efektif dalam mengatasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan investor dalam negeri.(*)
Editor: Ani